Pantun Mendadak

Maryamah

Belum pernah sekalipun ikut lomba pantun, tiba-tiba ditunjuk sebagai satu-satunya utusan untuk lomba tersebut. Tentulah perasaan terkejut dan kalang kabut menguasai hati. Namun mau bagaimana lagi, nasib itulah yang harus diterima oleh Maryamah, gadis Melayu kelahiran Natuna, 1 Juli 1987 ini.

Rupanya terpilihnya Mar, sapaan akrabnya, dalam lomba pantun yang diadakan Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau itu bukan tanpa sebab. Teman-teman anak bungsu dari empat bersaudara ini sangat mengetahui kalau Mar suka berpantun.

“Waktu itu aku dan teman-temanku sedang dalam Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) di Gunung Kijang. Suatu hari, Dinkes Kepri mengadakan kegiatan berupa sosialisasi program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam bentuk lomba pantun untuk ibu-ibu PKK
se-Kabupaten Bintan,” ucap Mar.

Merasa kebingungan karena tidak ada utusan dari kecamatan Gunung Kijang, lantas Camat memilih peserta dari mahasiwa KKN. Lalu, teman-teman si penggemar makanan khas melayu ini, menunjuk dirinya.

“Kepercayaan mereka begitu besar padaku, hingga akhirnya aku terima juga. Deg-degan rasanya, berbalas pantun dengan waktu yang diberi hanya 30 detik. Ditonton oleh istri Bupati Bintan lagi,” kata alumnus STAI Miftahul Ulum menggambarkan suasana hatinya kala itu.

Babak demi babak dilewati gadis humoris ini dengan dada berdebar-debar. Ia mengenali beberapa pemantun yang tidak diragukan lagi kepiawaiannya. Namun siapa sangka, dalam lomba tersebut ia keluar sebagai juara satu.

“Ikut lomba baru pertama kali, namun dapat menjadi juara. Benar-benar menjadi pengalaman berharga dan sangat lucu bila mengenangnya kembali,” ujar penyayang kucing ini mengakhiri ceritanya.(cr3)

Pin It

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *