Alamak, Siswi SMP Menjadi Germo

f-dok/tanjungpinang pos
SALAH GUNA: Searah jarum jam, dua pekerja terlelap di bawah monumen Ocean Corner; Gubernur Kepri HM Sani menandatangani prasasti replika rumah adat di Senggarang. Kedua tempat ini disalahgunakan jadi tempat transaksi esek-esek; Ketua KPAI Kepri Putu Elvina Gani mendengarkan laporan warga di kantornya, Jumat (24/8).

PROSTITUSI di Tanjungpinang ditengarai semakin memprihatinkan, menyusul laporan yang disampaikan Ketua Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Muslim Indonesia (KAHMI) Tanjungpinang, Ade Angga kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Provinsi Kepri, Jumat (24/8). Kalangan mahasiswa, pelajar SMA bahkan SMP sudah terlibat di dalamnya.

Ade Angga datang bersama Sekretaris KAHMI yang juga dosen UMRAH, Yusuf Mahidin serta seorang warga yang keponakannya menjadi korban perdagangan prostitusi di bawah umur. Warga ini menyatakan kekesalannya karena ada anggota keluarganya yang menjadi korban dan kebetulan melaporkannya ke KAHMI. Dalam diskusi yang juga melibatkan Ketua KPAI Kepri, Putu Elvina Gani, dikemukakan bahwa pelajar SMP sudah berani terjun ke dunia ini.

”Kami temukan fakta di lapangan justru teman-temannya satu sekolah di SMP menjadi muncikari alias germo, untuk dicarikan hidung belang,” kata Yusuf Mahidin.
Bukan hanya siswi dari kalangan tak mampu dicarikan lelaki hidung belang, ada juga anak orang berduit.
Lokasi transaksinya, umumnya dilaksanakan di tepi laut dan kebanyakan di Ocean Corner. Setelah kedua belah pihak sepakat baru menuju hotel. Ada juga yang melakukannya di rumah kontrakan setelah menyepakati harganya di Ocean Corner.

Bahkan Mahidin mengatakan, malam minggu atau liburan adalah saat yang paling berpotensi bagi lelaki pemesan membawa para pelajar tadi ke Batam.
Pelajar yang masih di bawah umur, leluasa keluar masuk hotel di Tanjungpinang, karena pihak hotel tidak memberikan larangan anak sekolah dilarang masuk. ”Anak-anak ABG masuk keluar hotel umumnya masih tetap mengenakan helm. Kepada resepsionis, mereka berkilah temannya yang boking kamar, kemudian temannya menyusul kemudian,” tegasnya.

Menyedihkan, karena prostitusi sudah melebar ke luar hotel. Kadang juga dilakukan di tempat-tempat sunyi dan gelap seperti kawasan Gudang minyak Teladan, daerah tepi laut, dan Taman Budaya Rumah Adat di Senggarang.

”Parah, beberapa rumah adat yang ada di Senggarang malah dijadikan tempat mesum, karena lokasi sepi tidak ada yang menjaga dan gelap tanpa listrik,” tegas Mahidin.
Ditambahkan Ade Angga, berdasarkan penuturan warga yang diajak ke KPAI hari itu, ada sepupunya yang masih sekolah SMP, SMA dan perguruan tinggi terlibat.
”Kami minta dihukum seberat-beratnya bagi pelanggan seks di bawah umur,” tegas warga yang tak ingin disebutkan namanya.

Menurut Ade Angga yang juga Ketua DPD Golkar Tanjungpinang, temuan lain yang cukup mengejutkan ialah ada yang tega menjual pacarnya sendiri ke lelaki hidung belang.
”Kami minta aparat bertindak tegas untuk menghukum berat siapa saja yang menumbuhsuburkan praktik ini. Kalau tidak diselamatkan remaja kita mulai saat ini, masa depan bangsa semakin terpuruk,” tegasnya.

Karena sudah ditemukan banyak korban yang masuk dalam jaringan perdagangan seks bebas di bawah umur, Ade Angga minta kepada pemerintah baik Pemerintah Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepri agar membuat program-program untuk melaksanakan rehabilitasi. Supaya remaja yang pernah masuk dalam jaringan gelap pedagangan seks bebas di bawah umur, tidak terjung lagi ke dunia lembah hitam.
”Pemerintah harus membina anak-anak yang pernah masuk dalam jaringan perdagangan seks di bawah umur. Dan minta pemerintah untuk mempertegas aturan agar pelajar tidak leluasa bisa menginap di hotel tanpa ditemani keluarganya,” ujarnya.

Mendapatkan laporan tersebut, Putu Elvina Gani tak habis mengerti mengapa remaja semakin jauh meninggalkan ketakutannya kepada Tuhan.
”Saya melihat remaja kita saat ini tidak takut yang namanya Allah dan dosa besar bila melakukan seks bebas di bawah umur,” tegas Putu.

Ia berharap orang tua mengawasi kegiatan anaknya lebih cermat, baik setelah pulang dari sekolah maupun kegiatan di luar rumah. Dan, sangat berharap agar para pendidik terutama guru dan pihak sekolah, supaya meningkatkan pelajaran karakter bagi siswa, mulai siswa tingkat SD, SMP hingga perguruan tinggi.
“Saya melihat pelajaran pembentukan karakter sangat minim. Saya bertemu langsung dengan Menteri Pendidikan, selalu menyampaikan agar pelajaran pembentukan karakter harus diperbanyak,” tegasnya. (ABAS)

Pin It

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *