Nobat dalam Adat Istiadat Pertabalan Raja-Raja Melayu

Seperangkat alat musik Nobat. Nobat lama Riau-Lingga, kini berada di bekas museum Kandil Riau di Tanjungpinang.

CATATAN tertua tentang penggunaan nobat @ royal orchestra @ orkes diraja dalam istiadat pertabalan seorang raja di Alam Melayu terdapat dalam Sulalatus-Salatin yang dikenal luas sebagai Sejarah Melayu.

Dalam naskah Sulalatus-Salatin atau Sejarah Melayu yang tertua, (MS. Raffle No. 18 yang kini tersimpan di Inggris) tercatat bahwa tradisi penggunaan nobat itu telah dimulai oleh Raja Perempuan Bintan, Wan Seri Bini atau Permaisuri Sakidar Syah yang ‘konon’ pernah pergi ke Benua Syam (sebuah kawasan di Timur Tengah yang kini meliputi wilayah Siria, Lebanon, dan Palestina). Nobat itu pula yang dipergunakan ketika ia menabalkan Sri Tri Buana atau Sang Nila Utama sebagai raja di Bintan.

Tradisi penggunaan nobat yang dipergunakan di Bintan itu kemudian tersebar dan berkembang sebagai bagian dari peralatan yang sangat penting dalam kumpulan alat-alat kebesaran diraja @ regalia raja-raja Melayu di Semenanjung Melaka, Kepulauan Riau-Lingga, Pasai, Brunai, dan Patani.

Antara tahun 1722 hingga 1911, Riau-Lingga adalah salah satu kerajaan Melayu yang memiliki nobat yang juga berfunsi sebagai bagian dari alat kebesaran atau regalia dan sekaligus simbol daulah sultan yang memerintah. Ia hanya dimainkan atas perintah raja dalam istiadat pertabalan serta istiadat khusus lainnya, dan hanya dapat dipegang oleh kalangan diraja serta kelompok khusus pemainnya yang disebut Orang Kalur @ Orang Kalau.

Instrumen utama dalam sekumpulan peralatan musik nobat adalah tiga buah gendang dan dua buah alat tiup. Satu gendang disebut Nengkara atau mengkara dengan satu permukaan pukul. Dua gendang lainnya adalah gendang panjang berbentuk silinder yang disebut Gendang Nobat dengan dua permukaan pukul dan diletakkan pada posisi mendatar. Sedangkan dua buah alat tiup adalah berupa nafiri dan serunai.
Sepanjang sejarahnya, kerajaan Riau-Lingga mempunyai dua perangkat alat musik nobat.

Kelompok pertama dapatlah disebut sebagai ‘nobat lama’ Riau-Lingga dan diyakini sebagai salah satu nobat tertua di Alam Melayu. Selain terdiri dari beberapa instrumen utama seperti disebutkan diatas, ‘nobat lama’ Riau-Lingga ini juga dilengkapi dengan beberapa buah gong yang diyakini sebagai bagian dari gong nobat kerajaan Melaka oleh Mubin Sheppard. Dan berbeda dari nobat lainnya, terdapat dua pula dua gendang nobat yang baluh-nya terbuat dari perunggu, dua buah serunai terbuat dari gading, sebuah nafiri dari perunggu, dan sebuah serunai dari kayu.

Seperti halnya gendang nobat dan nengkara milik kerajaan negeri Kedah dan Perak di Semenanjung, yang juga diyakini berasa dari Melaka, baluh (bingkai gendang) ‘nobat lama’ Riau-Lingga juga terbuat dari kayu, disamping sebuah dua baluh gendang nobat yang terbuat dari perunggu.

Kelompok kedua nobat Riau-Lingga adalah ‘nobat baru’ yang terdiri dari dua buah gendang nobat, sebuah nengkara yang kesemua baluh-nya terbuat dari bahan perak. Dilengkapi pula dengan sebuah nafiri, dan sebuah serunai yang juga dari terbuat dari perak.

Nobat “baru” ini dibuat tiga tahun setelah Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II mangkat pada tahun 1883, bersempena istiadat pertabalan Sultan Amdulrahman Mu’azamsyah ibni Yang Dipertuan Muda Riau Raja Muhamad Yusuf sebagai Sultan Riau-Lingga di pulau Penyengat pada bulan Februari 1885.

Nobat “baru” Riau-Lingga ini, sekarang menjadi salah satu regalia kerajaan Terengganu. Mengapa nobat ‘baru’ ini menjadi bagian dari regalia kerajaan Terengganu? Ada sebab historis yang akan saya jelaskan pada kesempatan lain.

Namun yang pasti, nobat inilah yang dipergunakan dalam istiadat pertabalan Yang Dipertuan Agung Malayasia ke-13, Tuanku Mizan Zainal Abidin yang berasal dari Terangganu pada tahun 26 April 2007.
Sebagai bagian dari regalia raja-raja Melayu, nobat mempunyai kekuatan supernatural dan simbol legitimasi.

Secara adat, seorang Sultan Riau-Lingga resmi bertahta atau naik tahta setelah dinobatkan atau setelah dipalukan gendang nobat diiringi oleh tiupan dan paluan alat musik lainnya yang memainkan komposisi musik nobat Riau-Lingga bertajuk “Lagu Ibrahim Khalil” ketika ia ditabalkan. Sebagai pengiring kebesaran diraja, komposisi “Lagu Iskandar Syah Zulkarnain” yang disebut juga “Lagu Raya-Raya” dimainkan pula ketika raja berarak.

Mubin Sheppard dalam risalahnya yang berjudul Nobat The Royal Orchestra which Repalaced the Coronation of Malay Rulers until Modern Times (cerita yang sama saya dengar juga dari almarhum Raja Ibrahim Mansur di Pulau Penyengat), menyebutkan bahwa pembuatan nobat “baru” ini dilatarbelakangi sejumlah persoalan ‘supernatural’ ketika ‘nobat lama’ akan dipergunakan untuk prosesi menjelang pertabalan Sultan Abdurahman Mu’azamsyah sebagai Sultan Riau-Lingga yang terakhir di pulau Penyengat pada 1885.

Kejadian ‘supernatural’ itu antara lain menimpa Residen Riau yang berulang kali mengalami ‘sakit perut’ tanpa dapat diketahui penyebabnya secara medis, setiap kali ia mengunjungi istana di pulau Penyengat bersempena prosesi penabalan Sultan Abdulraman. Berulangkali istiadat pertabalan tersebut ditunda. Singkatnya putera sulung Yang Dipertuan Muda Riau itu tak dapat menggunakan ‘noba lama’ tersebut sempena pertabalannya.

Oleh karena terhalang oleh peristiwa ‘supernatural’ tersebut, Tengku Embung Fatimah binti Sultan Mahmud Muzafarsyah, bunda Sultan Abdulrahman, dan Residen Riau ketika itu bersepakat untuk membuat nobat “baru” pada pandai perak Melayu di Batavia.

Nobat “baru” yang dihiasi ukiran bunga bogang dan inskripsi huruf Arab Melayu bertuliskan Yang Dipertuan Riau dan Lingga Sanah 1303 ( 1885) inilah yang dipergunakan untuk menabalkan Sultan Abdulrahman Muazamsyah sebagai Sultan Riau-Lingga di Pulau Penyengat pada bula Februari tahun 1885. Dan sejak saat itu pula, ‘nobat lama’ Riau-Lingga tidak dipergunakan lagi.

Hingga pertengahan tahun 1970-an, ‘nobat lama’ Riau-Lingga masih disimpan di salah satu rumah sotoh di mesjid pulau Penyengat.

Sebagai langkah penyelamatan dan pemanfaatan, tak berapa lama kemudian dipindahkan oleh almarhum Raja Abdul Razak untuk melengkapi koleksi Museum Swasta Kadil Riau yang dikelolanya di Jl. Kijang (Kampung Melayi) Batu II No. 76 Tanjungpinang.

Kini, museum pertama di Provinsi Kepulauan Riau yang telah didaftarkan oleh budayawan Hasan Junus dalam buku besar The Museum of The Wolrd yang berpusat di Jerman pada tahun 1973 itu telah “tutup”. Namun ‘nobat lama’ Kerajaan Riau-Lingga itu masih ada. ***

Pin It

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *