Perawan Siswi SMU Dihargai Satu Motor

RAZIA: Razia terhadap pelaku kehidupan malam tetap berjalan, tetapi beragam alasan yang membuat mahasiswi dan pelajar tetap nekat terjun ke dalam dunia ini.

RAZIA:
Razia terhadap pelaku kehidupan malam tetap berjalan, tetapi beragam alasan yang membuat mahasiswi dan pelajar tetap nekat terjun ke dalam dunia ini.

Tanjungpinang Undercover (Bagian 2)

Sebuah malam di tempat nong-krong anak muda di Tanjungpinang. Sekumpulan anak muda menikmati malam. Mereka berkelompok, sibuk dengan pembicaraannya masing-masing. Lewat tengah malam tak mengganggu keasyikan ini.

Tanjungpinang yang ada di antara mereka untuk mendapatkan informasi pelan-pelan mencari celah. Beberapa teman yang ikut menemani akhirnya mendapatkan titik terang. Seorang gadis muda terlihat sibuk mempermainkan ponselnya. Terlihat wajahnya agak tegang.

Meski secara fisik ia memiliki wajah dan bentuk tubuh yang lumayan menggoda hasrat, namun malam itu pesonanya seakan berkurang oleh lesu wajahnya.

Dari percakapan sederhana, akhirnya malam itu tercipta komunikasi antara Tanjungpinang Pos dan dia. Sebut saja namanya Mawar. Dari cerita beberapa teman yang ada malam itu, juga pengakuannya sendiri, statusnya mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Tanjungpinang.

Agaknya ia memang membutuhkan uang. Karena percakapannya mendominasi, dan ia mulai nakal dengan melontarkan gurauan-gurauan yang membangkitkan suasana malam yang dingin. Tukar nomor telepon pun terjadi.

Malam berikutnya, sebuah SMS darinya masuk ke ponsel Tanjungpinang Pos. Tanpa basa-basi, Mawar mengirimkan SMS yang isinya memohon untuk “dipakai”. Mengawali dengan pengakuan ia benar-benar mahasiswi, Mawar meminta Rp250 ribu untuk sekali short time.

Tanjungpinang Pos yang belum sempat membaca SMS itu kembali mendapatkan SMS kedua dari Mawar. Gadis dengan wajah oval, rambut panjang dengan kulit putih bersih ini kembali menegaskan ia mahasiswi, memiliki kartu mahasiswa. Pada SMS kedua ini Mawar meminta tolong agar dipakai karena butuh uang untuk membayar kos.

Jika Mawar terang-terangan memancing korban di tempat keramaian terbuka, lain lagi pengakuan Melati. Lulusan sebuah SMA di Bintan ini kini tengah kuliah di sebuah perguruan tinggi di Tanjungpinang. Ia pertama kali melakoni kehidupan sebagai ayam kampus saat bekerja di sebuah karaoke yang ada di Tanjungpinang. Namun ia menolak menyebutkan waktunya.

Saat ini, ia mengaku sudah terbiasa dengan dunia gemerlap (dugem), karena dari sana juga ia mendapatkan uang di luar gajinya sebagai karyawati karaoke.

“Saya tak hanya menemani tamu karaoke, kalau diajak lebih dari itu saya bersedia,” tuturnya.

Untuk sekali ajakan singkat, Melati mematok harga Rp500 ribu. Dengan uang hasil menjual dirinya, Melati mencukupi kebutuhannya selama ini. Menurutnya, tarif itu tergolong murah.

“Teman-teman kuliah lain yang juga meu melayani lelaki hidung belang banyak yang menentukan tarif di atas saya,” katanya.

Meski menerima ajakan tidur bersama, ayam kampus ini tak setiap saat menerima tamu hingga ke kamar hotel. Ia melakukannya jika memang terdesak kebutuhan yang tak mampu dicukupinya dari gajinya bekerja.

Untuk soal tarif, ternyata ayam sekolah lebih mahal. Tanjungpinang Pos mendapatkan keterangan dari seorang pegawai di sebuah kantor pemerintahan di Pulau Bintan yang juga menjalani profesi sebagai wanita panggilan.

Pegawai yang berparas cantik ini, sebut saja Cindy, mengakui jika sekitar sebulan lalu ia membantu mencarikan solusi seorang siswi sebuah SMA di Tanjungpinang.

Cindy meminta Tanjungpinang Pos menggunakan nama samaran Clara untuk siswi tadi. Suati ketika, Clara berkeluh kesah kepada Cindy mengenai bebannya, berupa biaya sekolah.

“Clara memang lahir dari orang tua yang kehidupannya pas-pasan,” tutur Cindy yang menentukan tempat saat mengajak Tanjungpinang Pos bertemu, dua hari lalu.

Sebagai remaja, Clara rupanya tak kuat menghadapi persaingan gaya hidup teman-teman sekolahnya yang bisa gonta-ganti ponsel, berpakaian bagus dan bentuk kemewahan lain. Saat duduk di pertengahan SMA, Clara mengatakan kepada Cindy betapa inginnya ia memiliki sepeda motor.

Hingga akhirnya, Clara mengurakan niatnya untuk menjual dirinya jika ada yang bersedia menggantinya dengan sebuah sepeda motor jenis matic baru. Cindy yang memang memiliki banyak teman untuk urusan ini segera mendapatkan calon pelanggan.

“Dia pejabat eselon tiga tetapi tugasnya di luar Pulau Bintan,” ungkap Cindy.

Setelah harga disepakati, barter sepeda motor dan keperawanan Clara pun dilakukan oknum pegawai tadi. Ia datang dari kotanya ke Tanjungpinang, melakukannya di sebuah hotel tak jauh dari pusat kota.

Meski hanya short time, akhirnya Clara merelakan keperawanannya senilai satu motor matic baru. Kendaraan bermotor ini diberikan langsung oleh pegawai yang membookingnya sesaat setelah keduanya melepaskan hasrat seksualnya secara kilat.

“Saya sendiri yang menjemput motornya dari dealer, ketika Clara sedang melayani oknum PNS itu,” terang Cindy.

Memiliki sepeda motor ternyata tak memupus keinginan lain bagi Clara. Dari keinginan memiliki BlackBerry (BB), baju bermerek, sepatu level atas dan aksesoris lainnya. Dari keinginan inilah, Clara akhirnya melanjutkan kehidupannya sebagai ayam sekolah.

Meski tak lagi virgin, Clara kini mematok harga Rp1,5 hingga Rp2 juta. “Dengan siapa saja yang bersedia membayarnya segitu Clara pasti mau,” tutup Cindy.(TIM REDAKSI)

Besok, baca di mana saja ayam kampus atau ayam sekolah bersedia menerima dan melayani tamunya.

Pin It

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *