Bersyukur Masih Punya Kaki

PANTANG MENYERAH: Andi Rina Wati menulis dengan jari kakinya di rumah orang tuanya, Sebong Pereh, Bintan, Jumat (17/5) malam.Meski cacat ia tetap semangat sekolah. F-yusfreyendi/tanjungpinang pos

PANTANG MENYERAH: Andi Rina Wati menulis dengan jari kakinya di rumah orang tuanya, Sebong Pereh, Bintan, Jumat (17/5) malam.Meski cacat ia tetap semangat sekolah.
F-yusfreyendi/tanjungpinang pos

Impian Dokter dari Bocah Tanpa Sepasang Tangan (1)

Sejak pagi, Kota Tanjungpinang seperti terbakar akibat terik matahari yang berlebihan dibandingkan sehari sebelumnya. Namun, beberapa gumpalan awan terlihat berarak disertai kilat dan guruh di belahan utara ibu kota Provinsi Kepri ini.

Tak salah lagi, sore itu beberapa desa Kabupaten Bintan menuju Desa Sebong Pereh Kecamatan Teluk Sebong diguyur hujan. Kondisi cuaca yang tidak menguntungkan itu sempat meragukan langkah kaki untuk menemui si penyandang cacat yang tertera di dalam pesan handphone beberapa jam sebelumnya.

Menjelang magrib, tugas menyetorkan berita ke redaktur selesai. Dari Bintan Center, cuaca menuju Kabupaten Bintan mulai terlihat bersahabat. Sepeda motor dan mobil mewah masih hilir-mudik di kawasan Bintan Center, Batu Sembilan. Beberapa kendaraan sudah menyalakan lampu utama.

Begitu juga dengan listrik penerangan jalan kota, menyala terang melawan kegelapan menjelang malam. Kumandang azan dari beberapa penjuru berkumandang mengingatkan agar kaum muslimin menunaikan kewajiban salat magrib. Bukan waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan jauh menuju Sebong Pereh saat itu.

Usai menunaikan salat magrib, sebuah sepeda motor Yamaha Jupiter New seperti sudah siap tancap gas ke Desa Sebong Pereh. Perjalanan menempuh jarak melebihi 80 kilometer dari Kota Tanjungpinang harus diarahkan ke SPBU Batu Sembilan terlebih dahulu. Butuh 15 menit antre untuk mengisi bahan bakar. Maklum, menjelang pukul 19.00 WIB, antrean di SPBU cukup panjang.

Suasana jalan raya Kota Tanjungpinang menuju perbatasan wilayah Kabupaten Bintan masih ramai. Di bawah penerangan lampu jalan, beberapa kendaraan masih terlihat hilir-mudik. Sekali-sekali terdengar suara klakson mobil yang sedang ngebut.

Rasa panas dari uap aspal jalan raya secara perlahan berubah ketika sepeda motor melintas di tugu Keris sebagai tanda perbatasan antara Kota Tanjungpinang dengan Kabupaten Bintan. Udara terasa semakin dingin ketika melintasi Jalan Lintas Barat Kecamatan Toapaya yang belum dilengkapi lampu penerangan tersebut.

Waktu terus berlalu. Tidak sadar, perjalanan sudah menempuh 25 kilometer ketika tiba di simpang empat Jalan Lintas Barat. Tak kuasa menahan dingin, jaket parasut yang sudah disiapkan di dalam tas ransel dipakai guna membalut tubuh. Perjalanan kembali dilanjutkan ke arah kanan menuju jalan lama Tanjunguban. Soalnya, jembatan Kangboi penghubung Lintas Barat sampai saat ini belum tersambung. Rasa dingin malam semakin menusuk tulang ketika menyusuri jalan tanpa rumah penduduk.

Terlebih lagi di saat berada di antara kebun karet dan lembah, butiran embun bekas guyuran hujan terasa sejuk saat menerpa wajah di balik kaca helm. Gas sepeda motor sekali-sekali terpaksa diturunkan ketika memasuki tikungan. Soalnya, aspal di beberapa ruas jalan di daerah tikungan masih basah.

Semakin jauh meninggalkan Kota Tanjungpinang, rumah penduduk dan suasana jalan raya semakin sepi. Tidak bisa dipastikan berapa tikungan dan jalan berbukit yang sudah terlewati. Jika sebelumnya masih mendengarkan suara knalpot kendaraan, menjelang tiba di Vihara Cikolek suasana berubah. Suara jangkrik dan binatang malam lainnya lebih jelas mengusik pendengaran telinga. Jarak pandang semakin dekat karena gelap malam di areal perkebunan cukup sulit ditembus cahaya lampu sepeda motor.

Rasa dingin secara perlahan semakin kuat. Tak disadari, telapak tangan di setang sepeda motor terasa kaku. Bukan angin malam saja seperti masuk menyusup dari ujung kuku. Rahang dan bibir ikut menggigil menahan dingin.

Ketebalan jaket parasut seolah tidak mampu menahan terpaan angin dan udara lembab.

Hampir satu jam perjalanan, kecepatan sepeda motor kembali ditambah. Hampir lima pemakaman tua yang konon angker di beberapa kampung sudah hilang dari pandangan. Jalan yang semula sempit dan basah sudah berubah lurus dan sedikit lebar.

Suasana hutan tidak lagi terlihat, yang tampak hanya rumah penduduk dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Hampir semua teras rumah di tepi jalan sudah disediakan lampu listrik. Kondisi jalan mulus tersebut sebagai tanda bakal tiba di Gedung Serbaguna Tribuana Kecamatan Teluk Sebong.

Sekitar 5 menit perjalanan dari Simpang Kampung Ekang dengan kecepatan rata-rata 80 km per jam akan sampai di Simpang Lagoi. Meski Gedung Serbaguna Tribuana sunyi, sekitar 50 meter di depan gedung terlihat 7 pedagang kaki lima yang masih membuka warung.

Tanpa pikir panjang, sepeda motor yang sudah sedikit berlumpur diarahkan ke satu warung yang cukup ramai. Di kursi kayu, beberapa orang pemuda kampung setempat menikmati kopi panas. Di antara mereka adalah Zai Liadi (38), tokoh masyarakat di daerah Kecamatan Teluk Sebong yang cukup terkenal.

Pria berkumis cukup tebal itu langsung menawarkan makan malam. Sepertinya dia mengetahui, perjalanan 64 kilometer dari Kota Tanjungpinang mencapai Simpang Lagoi cukup melelahkan. Tidak lebih dari 10 menit, pesanan nasi goreng dengan potongan daging cumi-cumi (sotong) dan segelas teh manis panas yang biasa disebut Teh O di Pulau Bintan itu, sudah terhidang di depan mata. Kami pun menikmati menu sederhana yang terasa nikmat itu.

Lantas informasi tentang bocah tanpa tangan bergulir di warung itu. Rupanya kami harus menempuh 20 kilometer lagi untuk sampai ke rumah bocah tersebut. Rumahnya berada di dalam kebun kelapa, beberapa ratus meter dari jalan aspal Pantai Sebong Pereh.

”Kalau mau jumpa, nantilah kita cari bersama warga Sebong Pereh. Tapi harus cepat kita berangkat. Maklum, kalau masyarakat di perkampungan cepat tidur,” Zai Liadi mengingatkan sambil melihat arloji di pergelangan tangan kirinya.

Belum sempat menghabiskan sebatang rokok putih, waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB. Perjalanan harus dilanjutkan. Lima kilometer dari Simpang Lagoi, Zai Liadi, tiba-tiba mengarahkan perjalanan ke kanan menuju Desa Sungai Kecil. Jalan kecil aspal kembali menjadi rute yang harus ditempuh.

Beberapa menit setelah melewati simpang tiga Desa Sungai Kecil, suasana berubah seketika. Tiupan angin laut terasa menusuk wajah. Rasa dingin kembali menyelimuti seluruh tubuh. Bahkan rasa dingin sudah masuk dari kaki. Berjalan di tepi pantai Sebong Pereh menjadi sesuatu yang menyenang saat itu. Dari jalan terdengar desiran ombak menghempas pantai berpasir memecah kesunyian malam yang semakin larut.

Sementara, tiupan angin laut meliukkan batang kelapa. Sedangkan di langit, bulan sabit dikelilingi bintang seolah tersenyum sambil mendoakan nelayan yang sedang menangkap ikan di tengah laut Cina Selatan. Kerlipan lampu petromak di atas perahu nelayan, dari kejauhan terlihat indah dan damai.

Zai Liadi menghentikan kendaraannya. Ia menemui seorang pemuda yang sudah berdiri di tepi jalan. Pemuda kampung bernama Dani (40) itu langsung membawa kami ke arah perbatasan Kecamatan Teluk Sebong dengan Bintan Utara. Sebelum tiba di jembatan kecil, Dani membawa sepeda motornya ke arah kiri jalan. Turun dari aspal, sepeda motor hanya berada di jalan tanah setapak.

Bukan saja beberapa pohon kelapa yang ada di pinggir jalan tanah setapak tersebut. Beberapa pohon karet berumur puluhan tahun dan tanaman hutan berdiameter lebih dari 1,5 meter juga masih berdiri kokoh. Suasana jalan tanah tidak seindah dengan suasana pantai.

Tidak menghabiskan waktu 3 menit, dari kegelapan terlihat sebuah rumah dengan cahaya remang-remang. Di depan rumah tersebut masih tertumpuk beberapa batako dan pasir bangunan. Sebuah kerangka sepeda motor butut tergantung tanpa ban.

Dari karat besi yang ada, sepeda motor itu sudah bisa dipastikan hanya barang rongsokan yang sudah berkarat. Seluruh atap rumah berukuran 6×8 meter tersebut juga berkarat. Bahkan hampir di setiap sudut atap sudah berlubang dan terdapat beberapa tempelan terpal.

Dari luar terlihat dua orang anak perempuan sedang bergurau. Di lantai semen terbentang sebuah selimut tipis yang dijadikan alas tidur seorang bocah perempuan berumur 5 tahun. Tidak jauh dari kepala sang bocah, terbentang sebuah tas hitam robek dan buku tulis.

Di atas buku terlihat sebuah pensil pendek tanpa karet penghapus. Di samping mesin jahit rusak, seorang ibu terlihat bersandar di dinding papan rapuh sambil melihat tingkah kedua putrinya. Suasana di dalam rumah hening ketika mesin sepeda motor dimatikan.

Dari beberapa kaca nako yang pecah, sebuah wajah polos melihat ke luar rumah. Gadis kecil berbaju kuning itu langsung meminta sang ibu membuka pintu. Gadis yang menggunakan celana setinggi lutut itu sadar, sejak dilahirkan 16 tahun lalu sudah tidak memiliki sepasang tangan.

Melihat kedatangan tamu, Andi Nurmadiah (40) langsung membuka pintu. Di depan pintu, ibu dari empat orang anak di dalam rumah terlihat bingung. Mendengar maksud dan tujuan kedatangan Tanjungpinang Pos, Nurmadiah hanya menyambut dengan senyuman.

“Aduh cukup jauh ya perjalanannya, mari masuk dulu,” sebut Nurmadiah sambil mengarahkan tangan kanannya ke lantai semen.

Itulah satu-satunya tempat duduk dan beristirahat di rumahnya. Tak ada kursi di sana, hanya ada mesin jahit yang sudah tidak berfungsi. Di samping pintu menuju dapur terlihat lemari kayu dengan warga yang sudah memudar dimakan usia.

Sedangkan di pojok kanan hanya berdiri lemari kayu kecil setinggi dada. Di atas lemari itu masih terbuka lebar papan pengapit sebuah kitab suci Alquran.

Di ruang ukuran 3×4 meter itu masih terasa terpaan angin. Soalnya, setiap jendela terdapat beberapa celah besar tempat kedudukan kaca nako yang sudah pecah. Namun sampai saat ini, Nurmadiah tidak sanggup menggantinya.

Jangan untuk mengganti kaca nako yang pecah, atap rumah yang bocor saja hanya ditempel terpal plastik. Sebagai penghambat air agar tidak langsung jatuh ke lantai, empat kain bekas spanduk partai politik dibentang sebagai media pengganti plafon rumah.

Meski kondisi rumah jauh dari kemewahan, Andi Rina Wati (16) anak dari pasangan Nurmadiah dan Amir itu duduk di lantai semen dengan nyaman. Kepada kami, Rina menggerakkan jari kaki kanannya memindahkan buku tulis dan pensil dari tas sandang usang ke lantai.

Usai membuka lembaran kertas yang masih kosong, jari telunjuk yang dibalut cincin perak dan jempol kaki kanan gadis itu menjepit pensil. Pensil yang sudah menempel di kaki seperti menari di atas buku tulis. Dari oretan pensil yang berdiri kokoh di antara jari telunjuk dan jempol itu, Rina menulis sebuah ungkapan kata hati tentang makna kehidupan di dunia.

Tak puas menulis dengan cara duduk di lantai, jari kaki kembali menjepit pensil bersama buku serta meletakan di atas meja mesin jahit. Ternyata, mesin jahit yang telah rusak itu merupakan meja belajar Rina.

Ketika duduk di kursi kayu, Rina tidak kesulitan mengangkat kaki kanannya ke atas meja mesin jahit. Kaki kanan kembali menggoyangkan pensil di atas kertas guna melanjutkan ungkapan hati yang belum tuntas. Disaat kaki kanan menulis, sekali-sekali kepala Rina menggerakan kepalanya ke arah kanan.

Dengan gerakan tersebut, rambut pendek Rina yang semula menutup matanya berubah ke arah samping. Sehingga tatapan mata kembali normal saat menatap ke arah tulisan kaki. Ibarat pepatah, tak ada rotan akar pun jadi. Namun bagi Rina, tak ada tangan kaki pun jadi. Baik menulis, mandi, memasang baju, menyapu rumah, mencuci piring dan semua aktivitas kehidupannya dilakukan dengan kaki.

“Pokoknya semuanya dilakukan dengan kaki, dan itu bisa kukerjakan. Karena sejak lahir Rina memang tidak punya tangan. Tapi bagaimana pun, Rina tetap bersyukur,” ujar Rina, murid Sekolah Dasar (SD) Negeri 002 Teluk Sebong tersebut sambil menutup bukunya.

Tanpa bantuan ibu maupun adiknya, Andi Mawar Merah (15) yang biasa dipanggil Bunga, Rina kembali menyusun buku dan pensil ke dalam tas sandang hitam les biru yang masih berada di lantai. Setelah memastikan semuanya tersimpan rapi, Rina kembali menggunakan kaki kanannya untuk meletakkan tas ke atas lemari kayu.

Waktu hampir mendekati pukul 23.00 wib, Nurmadiah mengambil kain tipis dan menyerahkan kepada Rina dan Bunga. Tanpa pikir panjang, Rina dan Bunga langsung membaringkan tubuhnya di atas kain tipis putih yang sudah terbentang di depan televisi kecil.

Kebiasaan tidur beralas kain tipis tersebut sudah dijalani Rina sejak menginjak usia 6 tahun. Karena, kedua orang tua Rina tidak mampu membeli kasur lebih dari satu. Rina hanya menerima kemiskinan yang dihadapi keluarganya. Jangankan untuk membeli tempat tidur yang berkualitas atau kasur kapuk biasa, mengganti atap rumah yang bocor saja belum terwujud.

Setiap hujan turun pada malam hari, Rina bersama Bunga dan Andi Madhani yang masih berusia 5 tahun harus pindah ke kamar sang ibu. Bahkan Andi Bedu (14) yang merupakan satu-satunya laki-laki di rumah tersebut harus ngungsi dari kamar belakang ke kamar sang ibu. Di dalam kamar Nurmadiah, juga tidak dilengkapi kasur yang bisa menampung lima orang anaknya.

”Beruntung malam ini tidak hujan. Kalau hujan, semua atap bocor dan terpaksa ngumpul di kamar mamak (ibu,red). Sering kami tidur kedinginan karena atap rumah bocor,” kata Rina tertawa kecil sambil menoleh ke arah Bunga dan ibunya.

Mendengar cerita anaknya, Nurmadiah hanya tersenyum seperti menghibur diri. Namun kesedihan Nurmadiah tidak bisa ditutupi tatkala jari tangannya mengusap air matanya.

Nurmadiah menyadari, banyak yang harus dipenuhi untuk kebutuhan hidup maupun pen didikan anak-anaknya. Tapi apa daya, penghasilan suaminya tidak mencukupi untuk biaya rumah tangga. Apalagi sejak setahun lalu, Amir (60), ayah Rina jarang mengirim uang dari Johor Bahru Malaysia.

Karena, Amir di negara jiran bersama Jufri (19) anaknya yang ke-6 tidak memiliki pekerjaan tetap. Nurmadiah hanya berharap bantuan dari 6 anaknya yang telah berumah tangga untuk kelangsungan hidup sehari-hari dan biaya sekolah Rina, Bunga, dan Bedu.
(bersambung)
(YUSFREYENDI-SLAMET)

Pin It

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *