Raja Ali Kelana dan Fondasi Historis Industri Pulau Batam (1896-1910)

Kantor pusat dan kantor pemasaran Batam Brickworks di 135 Prinsep Street Singapura tahun 1901. f-dok.aswandi syahri

Kantor pusat dan kantor pemasaran Batam Brickworks di 135 Prinsep Street Singapura tahun 1901.
f-dok.aswandi syahri

Batam Brickworks:

Oleh: Aswandi Syahri

Pada akhir abd ke-19 (sekitar 1882-1883), Pulau Batam dan kawasan sekitarnya adalah kawasan masa depan dalam kerajaan Riau-Lingga. Paling tidak, kecendrungan kearah ini telah mulai terlihat sejak pertengahan abad kesembilan belas.

Dalam kasus penanaman Gambir umpamanya, konsentrasi izin kebun gambir yang sebelumnya terfokus di Pulau Bintan sejak abad ke-18, mulai beralih ke Pulau Batam karena semakin menipisnya cadangan bahan kayu bakar pendukung pengolahan gambir di Pulau Bintan.

Kosekuensinya Pulau Batam dan pulau-pulau di sekitarnya menjadi tumpuan dan pusat untuk perluasan kebun gambir yang baru. Pulau Batam menjadi kawasan yang diperebutkan. Bahkan pada tanggal 1 April 1856, terjadi pertelagahan bersenjata diantara dua kelompok Cina peladang gambir dari Singapura dan Batam memperebutkan lahan ladang gambir di kawasan Sungai Terung dan Sungai Panas.

Sebagai ‘pulau masa depan’, Yang Dipertuan Muda Riau Raja Muhammad Yusuf juga mempersiapkan dan menyerahkan sejumlah kawasan tertentu di Pulau Batam dan kawasan sekitarnya kepada kaun kerabat dan anak-anaknya.

Dalam sepucuk surat bertarikh, Selasa 8 Rabi’luawal Hijrah bersamaan 26 Juli 1898 Miladiah umpamanya, Raja Muhammad Yusuf atas nama kerajaan Riau-Lingga telah mengurniakan sebagian tanah Pulau Batam kepada putranya yang bernama Raja Abdullah (Tengku Besar), Raja Ali Kelana, dan kepada saudaranya yang bernama Raja Muhammad Thahir:

“Bahwa kita seri Paduka Yang Dipertuan Muda Riau dan Lingga serta daerah takluknya sekalian menyatakan dari hal-hal tanah-tanah yang disebela Pulau Batamyang telah jadi kurnia kerajaan kepada putera kita Raja Abdullah (Tengku besar) dan kepada putera kita Raja Ali Kelana dan kepada saudara kita Raja Muhammad Thahir bin almarhum Yang Dipertuan Muda Riau Raja Haji…”

Batam Brickworks
Secara historis, fondasi pengembangan industri di pulau Batam telah dipancangkan oleh Raja Ali Klana dan rekan binisnya, seorang Cina pengusaha kaya dari Singapura bernama Ong Sam Leong, dengan membuka sebuah pabrik batu batu modern menggunakan mesin-mesin yang diberi nama Batam Brickworks (jadi, bukan Batam Brick Goods).

Usaha patungan ala ‘ali-baba’ itu tak berjalan mulus setelah beroperasi selama beberapa tahun. Semua mulai berubah, sejak Raja Ali Kelana membeli dan menjadi pemilik tunggal Batam Brickworks pada tahun 1896. Keputusan itu disokong pula dengan pengurniaan sejumlah tanah di Pulau Batam, termasuk lokasi pabrik Batam Brickwork oleh Yang Dipertuan Muda Riau kepada Raja Ali Kelana pada 1898.

Oleh Raja Ali Kelana, pembelian Batam Brickworks itu terus dipublikasikan hingga beberapa tahun kemudian pada sejumlah surat kabar yang terbit di Singapura. Sebagai ilustrasi, pada bulan Juli 1899, seorang bernama Raja Mohammed Akib mempromosikan ‘pengambilalihan’ perusahaan itu oleh Raja Ali Kelana dalam komlom iklan The Singapore Free Press and Merchantile Advertiser.

Di tangan Raja Ali Kelana, Batam Brickworks mulai bersinar. Ketika diambil alih pada tahun 1896, Batam Brickworks telah mampu memproduksi 30.000 batu batu bakar yang keras (Hard-Burnt Brick) per-hari. Semua batu bata yang produksi Batam Brickworks menggunakan merek dagang BATAM yang ditulis dengan huruf kapital pada bagian atas atau sampingnya.

Keberhasilan Raja Ali Kelana dalam mengembangkan Batam Batambrickwoks tak terlepas dari ‘manajemen modern’ yang dikendalikan dari kantor pusat serta depot di Singapura yang dipimpin oleh manajer Said Syech al-Hadi, Said Omar bin Sahab, Sudin, Abdool Koodos, Tiang Pow, Abdul Latip, Abdul Hakim dkk, dan sudah barang tentu didukung oleh pabrik dengan mesin dengan mesin-mesin modern pada zamannya di Pulau Batam.

Sebagai sebuah perusahaan anak Melayu yang diperhitungkan dalam dunia binis di kawsan Selat Melaka ketika itu, nama Batam Brickworks beserta personalia kantor pusat di Singapura dan pabrik di Pulau Batam, dicantumkan dalam direktori bisnis bergengsing di Singapura, The Singapore and Straits Directory, sejak 1901 hingga 1910.

Indjin Batoe di Batu Haji
Jika kantor pusat dan kantor pemasaran Batam Brickworks di Singapura mula-mula beralamat 135 Prinsep Street dan di 13 Boat Quay, maka pabrik batu bata Batam Brickworks tetap berada di Batam yang sekaligus menjadi sumber bahan baku pabrik itu.
Lokasinya di pinggir laut sebuah kawasan di Batu Haji.

Penduduk setempat, dan penduduk di sekitar Pulau Bulang menyebut kawasan pabrik itu enjin batu, bersempena mesin uap yang dipergunakan untuk membuat batu bata di pabrik tersebut.
Dalam arsip-arsip lama tentang Batam Brickworks, dan peta-peta lama kawasan pesisir sekitar Selat Bulang dan pulau sekitarnya, nama kawasan pabrik itu menjadi sebuah toponim yang ditulis indjin batoe dalam bahasa Melayu atau steenebakkerij dalam bahasa Belanda.

Pabrik Batam Brickwork atau indjin batoe di Batu Haji ini dipimpin oleh Superintendent (pengawas) bernama T. Sembob. Ia dibantu oleh Asistent bernama R. Murad, Clerk Abdul Madjid, S. Hashim, Raja Mahmood, Yacob, Abdulrahman, T Hussain, Syed Mohamed Rodsee, M. Salleh, T. Abdul Zalil, dan mandore Hang tent Yew, Safaralli, dan tan Hwa Lye.

Pada tahun 1906 Raja Ali Kelana selesai membangun dan menampah fasiltas baru pabrik Batam Brickworks di Batu Haji dengan mesin-mesin uap yang didatangkan dari Jerman. Kontraktornya adalah Mr. M. Caps dari Singapura.

Dengan mesin baru itu, dan didukung bahan baku tanah Batam yang bermutu, Batam Brickworks mampu menghasilkan batu bata dengan kualitas yang terbaik di belahan Timur, dan mampu menyaingi batu bata dari Skotlandia yang juga meramaikan pasar Singapura. Usaha ini berkembang dengan pesatnya sehingga memungkinkan Raja Ali Kelana membeli dua buah kapal uap yang diberi nama Laurah dan Karang.

Karena mutunya, batu bata produksi Batam Brickworks selalu memenangkan sejumlah pertandingan kualitas dan mutu batu bata di Singapura, Semanjung Melayu, dan kawasan Timur Jauh. Mutunya, mampu menyaingi batu bata produksi Thailand.

Dikarenakan mutunya, batu bata Batam Barickworks pernah mendapatkan award (penghargaan) pada Pinang Agricutural Show di Pulau Pinang pada tahun 1901, dan Hanoi Exposition di Vietnam pada tahun 1902-1903.

Selain dipergunakan di kawsan Riau-Lingga, seperti untuk membanguna gedung Mahkamah Besar dan Istana Laut di Penyengat, batu bata produksi Batam Brickworks juga dipergunakan untuk membangun gedung-degung pemerintah sarana perkeretapaian milik di Singapura dan negeri-negeri selat di Semannjung.

Beralih Kepada
Sam Bee Brick Works
Zaman keemasan Batam Brickworks di bawah Raja Ali Kelana berakhir pada tahun 1910. Terdapat beberapa persoalan yang menyebabkan berakhirnya aktifitas Batam Brickworks, yang diawali dengan tergendalanya produksi selama beberapa tahun.

Dari sisi eksternal berakhirnya Batam Brickworks milik Raja Ali Kelana ini tidak terlepas dari tekanan dan sabotase pihak Belanda terhadap Raja Ali Kelana karena aktifitas politiknya dalam menentang kolonialisme Belanda di Riau-Lingga.

Sebagai seorang tokoh kelompok perlawaan terhadap politik kolonial Belanda di Kerajaan Riau-Lingga, Raja Ali Kelana dicap sebagai salah seorang yang “berniat kejahatan” terhadap pemerintah Hindia Belanda, sebagaimana tersirat dalam surat pemakzulan Sultan Abdulrahman dan Tengku Besar Riau-Lingga pada tanggal 10 Februari 1911.

Sebelum hijrah ke Johor karena tekanan politik dan ancaman Belanda di 1911, Raja Ali Kelana telah menjual Batam Briworks dan pabriknya di Batu Haji Pulau Batam kepada Sam Bee Brickworks, sebuah perusahaan batu bata milik pengusaha Cina Singapura tahun 1910.

Penjualan dan sekaligus pangalihan milik Batam Brickworks itu diumumkan oleh Sam Bee Brick Works dalam surat kabar Straits Time di Singapura pada 10 Januari 1910: “Sam Bee Brick Works – Pulo Batam. The Batam Brickworks of Pulo Batam in the district of Rhio, which has for some time ceased manufacturing the well-known “Batam-Bricks, has been now taken over by the Sam Bee Brick Works Company…”

Sejauh ini, belum diperoleh informasi sampai kapan Sam Bee Brick Works mejalankan bekas pabrik batu bata milik Raja Ali Kelana di Pulau Batam. Namun yang pasti, perusahaan itu tetap menggunakan nama BATAM dalam huruf kapital sebagai label batu bata yang diproduksinya. ***

Pin It

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *