Di Batu 15, Pujasera Disulap Jadi Lokalisasi

RAZIA: Aparat gabungan saat razia menjelang puasa lalu. f-dok/tanjungpinang pos

RAZIA: Aparat gabungan saat razia menjelang puasa lalu.
f-dok/tanjungpinang pos

MUI Minta Aparat dan Pemerintah Tidak Tutup Mata

TANJUNGPINANG – Tertangkapnya seorang mucikari di kawasan lokalisasi Batu 24 membuktikan praktik prostitusi masih marak di Pulau Bintan. Ironisnya, penangkapan ini malah dilakukan polisi dari luar Kepri yaitu dari Polres Subang, Jawa Barat. Soalnya, mucikari di Pulau Bintan ini memasok ABG yang akan dijadikan pemuas pria hidung belang dari daerah Jawa, salah satunya Subang.

Aparat Kepolisian dari Polres Subang, Jawa Barat, menangkap seorang mucikari bernama Titin. Dia diamankan bersama suaminya Abdul Aris, Rabu (18/9) sore lalu atas dugaan pelaku trafiking. Mereka ditangkap karena mengorder tiga orang gadis di bawah umur asal Subang, untuk dipekerjakan di lokalisasi Batu 24. Untuk penyelidikan kasus ini lebih lanjut, keduanya dibawa ke Subang Kamis (19/9), sekitar pukul 09.30. Penangkapan ini membuktikan bahwa di Pulau Bintan marak praktik prostitusi, namun tak pernah tersentuh oleh hukum.

Selain itu, keberadaan lokalisasi di Tanjungpinang juga sangat kentara. Kendati pusat “jajan” Serba Ada (Pujasera) sudah dinyatakan ditutup oleh Walikota Tanjungpinang, Lokalisasi Batu 15 tetap menggeliat. Bahkan, peraturan tentang pemakaian wajib kondom dana pemeriksaan kesehatan rutin terpasang di setiap rumah.

Dalam pengamatan Tanjungpinang Pos, kegiatan penjaja seks terus bergulir mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB. Di depan masing-masing rumah, berjejer pekerja seks mulai yang masih belia hingga yang sudah berumur. Katanya, demi sesuap nasi. Padahal, penghasilan seorang pekerja seks dari hasil “berjualan” ini tiap bulannya ada yang bisa mencapai Rp15 juta per bulan.

Pelanggannya, siapa lagi kalau bukan pengusaha ikan berduit. Pekerja tambang bauksit, sopir angkot, dan tak jarang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun apaun status para penikmat seks tersebut, bukan masalah bagi para pekerja seks. Yang jelas, asal ramai maka itu berarti uang.

Para pekerja seks ini berasal dari daerah Jawa Barat. Sebagian ada yang berasal dari Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kedatangan mereka ke Tanjungpinang bukan karena tertipu ataupun ditipu bekerja di cafe-cafe seperti yang disebutkan tadi. Tapi dikarenakan keinginan sendiri dan ingin bekerja untuk menghidupi anak dan keluarga mereka.

“Kalau kami punya suami yang bertanggung jawab, gak mungkin kami kerja seperti ini,” ungkap Mawar, salah seorang pekerja seks. Diungkapkan Mawar, desas desus tentang akan ditutupnya Lokalisasi Batu 15 sudah sering didengarnya. Tetapi hingga saat ini penutupan itu tak pernah terjadi. Alasannya, setiap “mami” ataupun “papi” sudah menyetorkan uang bulanan kepada oknum petugas Satuan Polisi Pamong Praja Kota Tanjungpinang. “Biasanya mereka datang awal bulan dengan mobil patroli pada malam hari,” ujarnya.

Untuk diketahui, pada tahun 2007 lalu lokasi tersebut diresmikan sebagai pujasera oleh Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah. Di tengah perjalanan, pujasera ini berubah fungsi menjadi lokalisasi.

Aparat dan Pemerintah Jangan Tutup Mata
Maraknya prostitusi di Pulau Bintan ditanggapi serius Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI meminta agar aparat dan pemerintah membuka mata dan segera menertibkan dan menutup tempat lokalisasi di Batu 24 dan lokalisasi lainnya yang ada di Pulau Bintan.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tanjungpinang, Bambang Maryono, menyatakan sangat prihatin atas terkuak praktik prostitusi ini. Menurutnya, Kepri saat ini sudah dijadikan tempat perdagangan manusia atau trafiking. Penjualan cewek Anak Baru Gede (ABG) yang dibongkar oleh Polres Subang, membuktikan kalau Tanjungpinang dan Bintan, sudah dijadikan target mafia trafiking.

“Ini tantangan pemerintah daerah. Jangan tutup mata. Masalah ini perlu penangganan yang serius supaya daerah tanah Melayu ini tidak dijadikan tempat maksiat. Pemerintah daerah harus memperketat masuknya orang ke Tanjungpinang terutama anak-anak cewek usia remaja dan masyarakat yang tidak memiliki tujuan yang jelas datang ke Tanjungpinang dan sekitarnya,” kata Bambang Maryono menjawab Tanjungpinang Pos, Jumat (20/9).

Pekerja Seks Komersial (PSK) yang ada di Tanjungpinang dan Bintan dan Kepri umumnya, bukan hanya warga dari luar Tanjungpinang, Bintan dan Kepri, tapi dari dalam juga cukup banyak. Ditambah lagi dengan adanya yang didatangkan dari luar. Maka. boleh dikatakan PSK akan menjamur di Kepri.

“Pemkab maupun Pemko, perlu melakukan pendataan di kos-kosan. Karena banyak pendatang berpendidikan rendah, pekerjaan tidak jelas, beban hidup berat, maka pekerjaan yang dianggap menghasilkan uang cepat adalah lari ke pekerjaan maksiat ini. Inilah yang fenomena yang harus diputus benang merahnya,” harapnya.

Banyak penghuni kos-kosan yang tidak memiliki KTP. Memang ada razia, tapi setelah didata kemudian dilepas lagi sehingga tak menimbulkan efek jera. MUI melihat, Dinas Sosial dan Tenaga Kerja, baru berhasil melakukan pembinaan bagi Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang dideportasi oleh pemerintah Malaysia. Sedangkan, persoalan internal di Tanjungpinang sendiri, seperti maraknya PSK, maraknya anak punk, belum bisa ditangani baik oleh Dinas Sosial dan Tenaga Kerja.

Menurut MUI, aparat dan pemerintah jangan tutup mata terhadap kehadiran tempat-tempat maksiat di Tanjungpinang maupun Bintan. Apalagi, saat ini sudah jadi rahasia umum bahwa ada lokalisasi yang beroperasi di daerah ini. Yang pasti adalah lokalisasi Batu 24 yang terbukti dengan ditangkapnya mucikari di tempat itu. Sementara di Tanjungpinang juga ada di Batu 15.

Secara terpisah, Ketua LAM Kepri Abdul Razak, mengatakan pemda, baik Pemprov Kepri, Pemko Tanjungpinang dan Pemkab Bintan, harus membuat program-program kerja. Terutama membina ABG dan remaja serta masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan tetap.

“Cukup berat untuk menghilangkan pekerjaan maksiat. Tapi Peda harus bekerja keras. Tidak ada kata tidak bisa kalau dilakukan dengan niat yang tulus,” tegasnya. (sur/ass)

Pin It

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *